Aceh adalah hidup matiku. Darahku adalah air, tanah dan udara Aceh.
Minggu, 24 Mei 2009
Malam Panjang
Matahari mulai menyonsong, butiran-butiran embun berkilauan tersiram cahayanya. Pagi ini, aku harus segera ke sekolah, seperti hari-hari sebelumnya.
Tidak ada nasi atau sarapan pagi lainnya diatas meja. Ayah hanya memberiku 500 rupiah untuk sarapan disekolah.
Aku harus bersabar dengan kondisiku. Saat itu, aku hanya bisa berjalan kaki sejauh satu setengah kilometer, menuju sekolah setiap harinya. Terbakar panas dan menggigil kedinginan saat hujan turun dari langit.
Namun bukan itu yang membuat aku menjerit. Kakiku masih bisa melangkah diantara teriknya matahari, tubuhku masih bisa menahan derasnya hujan.
Akan tetapi, aku telah kehilangan seorang ibu disaat aku membutuhkannya. Usiaku saat itu masih dua belas tahun, kelas 1 SMP. Namun aku tidak merasakan kehadiran dan kasih sayang ibu.
Ibuku, adalah seorang kepala sekolah yang terusir dari kami anak-anaknya. Saat itu, tahun 1989, konflik Aceh hanya sebatas di Aceh Timur, Aceh Utara dan Pidie.
Setiap pukul 19.00 WIB, kami, warga pedalaman di Aceh Timur dikenakan jam malam. Tidak ada yang bisa kami lakukan, selain tidur menanti pagi.
***
Ah..
Mengapa aku selalu mengingat malam terakhirku bersama ibu. Malam durjana yang membuat detak jantungku sulit berhenti. Degupan keras jantungku seakan ingin melepaskan jiwa dari ragaku. Sakit.
***
Kulihat ibuku, duduk termenung diantara tatapan kami anak-anaknya, hening. Hanya air mata dan degup jantung kami yang berdetak.
“Sudahlah, mengapa menangis. Ibu tidak apa-apa kok. Ibu masih sehat,” kata ibu mencoba menghibur kami.
Tidak kataku! Aku tidak ingin ibu mati! Aku menangis.
Malam itu, waktu terasa lama, seolah-olah enggan beranjak barang sedetikpun. Aku tak sabar malam segera berganti pagi, agar ibu bisa secepatnya keluar dari rumah dan mencari perlindungan ke rumah nenek di Takengon.
Aku tidur bersama ibuku, menatapnya, mendoakannya setiap detik nafasku. Mencoba menjaganya dari segala kemungkinan yang terjadi. Aku tidak ingin ibuku mati seperti mereka yang mati dengan tembakan.
Aku tidak ingin ibuku dicampakkan seperti mayat-mayat yang sering kulihat dipinggir jalan. Seperti tubuh-tubuh kaku yang kulihat dibawah jembatan. Aku tidak mau!
Ayahku, walau mencoba tegar namun aku tahu Ia sedang kalut. Kulihat ayahku mondar mandir sepanjang jalan di ruang tamu. Sesekali mengintip situasi diluar rumah melalui celah jendela.
Kulihat ibuku terpekur dalam sujud yang panjang. Dapat kudengar dengan jelas untaian do’a diantara isakan tangisnya,“Jangan pisahkan aku dengan anak-anakku saat ini.”
Malam terasa semakin panjang. Entah kapan berakhir.
Ibu memanggilku, agar membantunya untuk masuk ke bawah kolong tempat tidur. Aku membantunya dan memberinya sebuah bantal. Dengan mendekap Qur’an, ibuku istirahat dibawah kolong tempat tidur.
Aku terduduk. Air mataku berurai menyaksikan kondisi ibu yang pucat pasi.
Ya Allah, mengapa malam begitu lambat bergerak. Sampai kapankah pagi akan menjemput. Jangan biarkan aku menyaksikan detik-detik yang menyakitkan ini.
Saat ibuku sedikit tenang dalam tidurnya, aku mencoba melihat kondisi adik-adikku. Kutinggalkan Ibu sebentar di bawah tempat tidur.
Di ruang tamu, kulihat ayahku diam seribu bahasa. Terpaku diatas kursi. Tidak ada kata yang dapat kuucapkan untuk menenangkannya. Aku bergegas menuju kamar dimana adik-adikku tidur.
Lilis, Putra, heri, ketiga adik-adikku duduk termenung. Tanpa suara.
Ya Allah, mengapa malam begitu lambat berjalan…..
Minggu, 03 Mei 2009
HIV Dan Buah Delima
BANDA ACEH - Harapan T (23), mahasiwa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh yang menganalisis virus anti HIV dari tinjauan Alquran, menjuarai lomba karya tulis ilmiah Islam nasional yang berlangsung di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Karya ilmiahnya berjudul "Analisis potensi pemanfatan buah delima (punica granatum sebagai pembunuh virus (virusid) dan anti HIV I yang resisten nucleotida dan non nucleotide berdasarkan tinjauan ilmiah dan Al-Quran," dipilih sebagai makalah terbaik oleh dewan juri lomba.
"Kami dari unsur akademi Fakultas Kedokteran Unsyiah menyatakan bangga dan terharu atas prestasi yang diraih Harapan T," kata dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah Darussalam dr. HM Andalas SPoG di Banda Aceh, Minggu.
Lomba karya tulis yang diselenggarakan forum ukhuwah lembaga dakwah Fakultas Kedokteran SeIndonesia ini diikuti oleh seluruh Fakultas Kedokteran di Indonesia, dengan dewan juri antara lain Prof DR Marsetyawan, DR Muhammad Tarqib, SpBS dan DR Jamal A.Aziz MAg. "Dewan Juri sangat tertarik dengan penyajian dari mahasiswa Harapan T. Apalagi, sampai saat ini belum ada jawaban pasti untuk obat penyakit AIDS," terang Andalas.
Sejauh ini buah delima memang sering digunakan untuk mengobati penyakit demam berdarah, namun belum ada pihak yang melakukan penelitian ilmiah dengan jumlah sample besar terhadap buah ini. "Kita berharap kedepan Harapan mau melakukan riset lanjutan tentang peran buah delima untuk mengobati seseorang yang terkena HIV/AIDS," ujar Andalas.
Dosen pembimbing Harapan T itu menjelaskan, mahasiswanya ini telah dua kali membawa harum nama Fakultas Kedokteran Unsyiah, etelah sebelumnya menjuarai lomba karya ilmiah wilayah Jawa dan Sumatra 2007, dan Unsyiah berjanji untuk memperhatikan bakat Harapan lebih serius lagi."Kami ingin Harapan T bisa memperkuat almamaternya kelak setelah menyelesaikan pendidikannya," kata Andalas yang menyebut pencapaian Harapan T. ini akan mengharumkan pendidikan tinggi di Aceh.
sumber : antara
Wartawan Aceh Di Kancah Nasional
Dunia jurnalistik, diakui adalah dunia pilihan. Yaitu, sebuah pilihan untuk menjadi manusia yang jujur, atau menjadi manusia yang jujur diluar akan tetapi menguras didalam. Tentu, menjadi seorang jurnalis, tetaplah pilihan. Pilihan dengan selera dan cita rasa yang berbeda.
Ada seorang jurnalis yang bertujuan untuk memuluskan keluarganya untuk bisa duduk pada posisi-posisi di pemerintahan atau untuk dapat meluluskan saudaranya sebagai CPNS. Bahkan, ada juga jurnalis yang bertujuan untuk masa depan yang lebih "wah". Yaitu menjadi pemimpin masyarakat (bupati, gubernur dll).
Pilihan ini diakui sebuah dilematis, di zaman yangs erba sulit ini. Ditambah penghargaan bagi seorang jurnalis di Indonesia termasuk Aceh, sangatlah rendah. Mulai dari gaji yang rendah, hingga penghargaan masyarakat terhadap kerja jurnalis yang masih kurang.
Ditambah sebuah situasi sulit, saat pejabat mencoba menarik seorang wartawan untuk amsuk dalam lingkaran setan "uang panas". Dilematisasi antara kebutuhan dan idealisme terlalu tipis untuh memilih. Tidak memilih mengikuti keinginan pejabat, konsekuensinya hidup hidup berkecukupan dan mendapat proyek tentu sebuah durian runtuh.
Namun, saat seorang jurnalis menolak keinginan pejabat, idealisme ini akan menjadi cobaan yang berat, khususnya dalam menghadapi "tetek-bengek" ekonomi.
Toh, kenikmatan seorang jurnalis bukanlah pada raihan uang segepok, bukan pada kedekatan dengan seorang pejabat daerah atau atau orang-orang yang memiliki pengaruh. Akan tetapi pada kemampuan meliput dan kemampuan menulis.
Kemampuan meliput sebuah berita maupun kasus, lalau mampu menulisnya secara baik dan mendapat respon dari pembaca, adalah kepuasan tak tak terperi.
Umumnya, kemampuan meliput dan menulis, selalu mendapat apresiasi yang luar biasa untuk tingkat nasional. Berbagai penghargaan dan perlombaan berbagai bidang kategori diadakan setiap tahunnya oleh berbagai pihak. Baik swasta maupun pemerintah.
Untuk tahun 2008, prestasi jurnalis ACeh cukup diandalkan. Tidak kalah dari jurnalis-jurnalis nasional. Bukti ini bisa kita lihat dari daftar finalis dan pemenang yang terdapat jurnalis dari negeri syariat islam ini.
Berikut ini beberapa penghargaan yang diperoleh jurnalis Aceh untuk Tingkat Nasional pada tahun 2008 lalu.
1. Mardani Malemi (Rakyat Aceh) : 10 besar pada LOMBA PENULISAN JURNALISTIK RUU ADMINISTRASI PEMERINTAHAN KERJASAMA KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA-SfGG GTZ-AJI JAKARTA (Februari 2008)
2. Fransisca Ria Susanti (Aceh Feature Service) : Juara II Isu Perburuhan diadakan AJI - ACILS - dan FES (Maret 2008)
3. Samiaji Bintang (Aceh Feature Service) : Juara II Esay Hak Azasi Manusia (HAM) yang diselenggarakan DEPKUMHAM (April 2008)
4. Arsadi Laksamana (Modus Aceh) : Juara I Sampoerna Award 2008 Kategori Investigasi Politik
5. Samiaji Bintang (Aceh Feature Service) : TIga Besar Sampoerna Award 2008untuk kategori Humaniora Hukum dan Politik
5. Novia Liza (Aceh feature Service) : Meraih Penghargaan Jurnalis Muda Berbakat 2008 Sampoerna Award 2008.
6. Ricky Fechrizal (Aceh Point ; Saat ini The Globe Journal) : Terpilih menjadi Peraih Beasiswa Investigasi Nasional 2008 (AJI- SIDA Swedia)
7. Fairuz (Aceh Magazine) Terpilih menjadi Peraih Beasiswa Investigasi Nasional 2008 (AJI- SIDA Swedia)
8. Mardani Malemi (Rakyat Aceh) : Terpilih menjadi Peraih Beasiswa Investigasi Nasional 2008 (AJI- SIDA Swedia)
Terakhir, Arsadi Laksaman meraih Juara III penulisan tentang Orang Hutan untuk Tingkat Nasional pada awal Januari 2009 lalu. Diadakan oleh AJI Jakarta - ProMedia Indonesia - Orangutan Conservation Services Program (OCSP) atas dukungan USAID.
Novia Liza, Jurnalis Muda Berbakat Sampoerna Award 2008
sumber : Acehforum.or.id
Remaja Aceh dan Prostitusi
Pengantar Ibarat dua sisi mata uang. Seks bebas dalam kehidupan, memang sulit dipisahkan. Bayangkan, ”penyakit” peradaban ini, tak mengenal agama, ras, jenis kelamin serta batas usia. Ironisnya, praktik menyimpang itu, diam-diam melanda remaja di Aceh, sebuah daerah yang menerapkan syariat Islam.
Sinyalemen banyaknya remaja laki-laki di Aceh yang terlibat seks komersil (bebas---red), hingga kini memang agak sulit dibuktikan secara langsung. Maklum, selain sulit mencari nara sumber, praktik itupun terjadi sangat rapi dan tersembunyi. Begitupun, setelah saya turun langsung ke beberapa lokasi di Banda Aceh. Fenomena dan sinyalemen tersebut, ternyata benar-benar terjadi.
Selama dua pekan, saya menelusuri (keluar-masuk) sejumlah rumah kecantikan (salon) di Kota Banda Aceh. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk memastikan semua itu.
Jum’at Malam, 2 Januari 2009, pekan lalu. Akhirnya saya mencoba melihat secara dekat aktifitas beberapa salon yang disinyalir sebagai tempat pelampiasan nafsu.
Jam masih menunjukkan pukul 20.00 WIB, Jum’at malam, 2 Januari 2009 lalu. Itulah hari terakhir, pertualangan saya, menyisir sejumlah salon di ibukota provinsi ini. Lalu-lalang kendaraan umum pun masih terlihat ramai. Setelah mempersiapkan segala keperluan, akhirnya, saya mencoba memasuki salah satu salon di Jalan Chik Pante Kulu Banda Aceh. Sebut saja Salon Mawar (samaran---red).
Saya memilih salon ini, tak lepas dari informasi dan rekomendasi salah seorang pelanggan tetap (narasumber) salon tersebut. Alasannya, selain lebih murah, cewek-cewek yang disedikan juga masih terbilang cantik. Dan tentu, keamanan juga terjamin.
Tepat di depan Salon Mawar, seorang lelaki berbaju putih duduk sambil menghisap sebatang rokok. Menurut informasi dari salah satu pelanggan, lelaki itu merupakan penjaga Salon Mawar.
Sesaat setelah memasuki salon, seorang wanita menyapa saya. “Mau apa Bang?” Saya menjawab. “Cap Cay”. Secara kasat mata, salon tersebut tidak ada yang berbeda dari salon-salon umumnya yang ada di Banda Aceh. Alunan musik jiran membahana dalam ruangan yang dipenuhi poster-poster mode rambut terkini.
Wanita muda dengan setelan kaus merah celana jeans itu menghidangkan segelas air putih. Sambil sedikit berbasa basi. Lalu, proses tawar menawar pun terjadi. Untuk sekali boking diluar salon saya harus merogoh kocek sebesar Rp 500 hingga Rp 700 ribu rupiah. Sedangkan untuk “main” (maaf naik ke bulan----red) di salon, patokannya hanya Rp 200 ribu. Namun, tarif tadi masih bisa dinegoisasi.
Saat itulah, saya melihat seorang remaja (berusia sekitar 18-20 tahun) menuruni tangga lantai dua salon tersebut. Tanpa rasa sungkan dan malu, remaja itu keluar tanpa ada rasa takut dilihat orang atau digerebek petugas Wilayatul Hisbah (WH).
Remaja-remaja tersebut (sebagaimana pengakuan salah seorang remaja yang berhasil ditemui), sudah biasa dan bukan hal yang baru lagi. Bahkan, pihak pengelola Salon tidak pernah melarang mereka.
Selain salon Mawar di Jalan T Chik Pante Kulu, ada beberapa salon lain yang menyediakan layanan seks bagi laki-laki hidung belang, tak kecuali anak remaja. Sebut saja di Jalan Teratai, Jalan M Daudsyah, Jalan Darma dan beberapa salon lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Menariknya, posisi salon-salon ini berada dalam lingkungan yang ramai lalu lintas. Namun, mereka seperti tidak merasa takut bila sekali-kali di gerebek Wilayatul Hisbah (WH).
Permasalah utama, tentu bukan pada masalah gerebek-mengerebek itu. Sebaliknya, kehadiran salon-salon yang menyediakan jasa seks tadi, justru telah membuka ruang bukan hanya bagi para lelaki dewasa, tetapi menjerat remaja laki-laki untuk ikut menikmati jasa yang disediakan salon-salon itu. Konsekwensinya, selain melanggar nilai dan norma agama (Islam), juga adat istiadat yang berlaku di Aceh. Lebih tragis lagi, akibat seks bebas itu, tak sedikit remaja laki-laki yang mengidap penyakit kelamin seperti sipilis atau “raja singa”. Dan tak mustahil pula, akan menjurus kepada HIV/AIDS.
Kondisi ini, diakui salah seorang dokter di RSU Zainal Abidin Banda Aceh. Dokter yang tak mau disebutkan namanya ini mengatakan. Banyak remaja seusia 17-20 tahun yang menderita penyakit kelamin seperti sipilis.
Kata dia, Infeksi Menular Seksual (IMS) kini mulai menjangkiti kehidupan remaja di Aceh. Baik jenis gonorchea maupun sifilis. Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, treponema pallidum. Penularan penyakit ini, umumnya terjadi melalui kontak seksual; tetapi, ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).
Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan; sebelum perkembangan tes serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut "Peniru Besar" karena sering dikira penyakit lainnya. Bila tidak terawat, sifilis dapat menyebabkan efek serius seperti kerusakan sistem saraf, jantung atau otak. Sifilis yang tak terawat dapat berakibat fatal.
Inikah fenomena baru pasca gempat dan tsunami yang melanda Aceh, 26 Desember 2004 silam? Entahlah, agaknya pemerintah daerah belum menyentuh masalah atau bisa jadi tidak pernah mau peduli? *
Bagaimana tanggapan Anda tentang adanya remaja yang kecanduan seks di salon?
Bisa jadi, inilah efek dari tempuran external yang luar biasa dahsyat. Seperti internet, filem dan majalah-majalah dewasa begitu mudah di akses tanpa ada filter dari pihak-pihak terkait.
Semua itu, ada kaitan dengan kondisi psikologi remaja yang masih labil?
Begini ya, seorang remaja ada posisi transisi. Dimana perubahan hormonal energi yang keluar sangat tinggi. Energi berlebihan inilah yang salah ditempatkan.
Lalu? Energi hormonal remaja akan menjadi dua arah. Pertama, energi hormonal yang positif dan konstruktif. Kedua, energi yang bersifat negative dan dekstruktif. Melihat kondisi remaja yang sudah tidak malu-malu ke salon untuk seks, ini adalah sebuah gambaran bahwa, energi remaja ini tidak tersalurkan dengan baik.
Contohnya? Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah minimnya sarana (terbatas) dan program-program bermutu untuk para remaja. Saat NGO masuk, memang banyak sarana dan program itu, tapi tidak secara kontiyu. Nah, ini seharusnya menjadi PR bagi Dinas Pendidikan dan Dinas Pemuda dan Olah Raga untuk menciptakan sarana bagi energi positif bagi para remaja.
Bukankah sudah didukung dengan program agama, seperti ceramah dan lain-lain? Kita akui itu memang ada. Tetapi, untuk masalah ini tidak cukup hanya dengan ceramah dan nasihat. Harus dilengkapi dengan prasarana untuk menyalurkan energi para remaja. Energi para remaja sebaiknya dapat disalurkan secara positif melalui wadah. Nah, wadah-wadah inilah yang masih sangat minim di Aceh.
Pihak sekolah sendiri bagaimana?
Begitu juga pihak sekolah. Kebanyakan di tempat kita, sekolah hanya menjadi tempat transfer tulis menulis. Tanpa ada fokus lainnya terhadap pelajar dan siswa. Padahal, sekolah bisa membentuk kegiatan-kegiatan yang bisa menyalurkan energi positif. Seperti membentuk youth corner, misalnya.
Lalu, bagaimana jalan keluarnya?
Pemerintah harus membentuk sarana-sarana itu. Sarana untuk menyalurkan energi yang berlebihan dari para remaja. Caranya, tentu Pemerintah harus men-support dana untuk program-program tersebut. Dan pihak sekolah, tidak hanya terpaku pada rutinitas tulis menulis saja, tapi bisa menghadirkan sebuah usaha preventif dengan berbagai bentuk kegiatan.
Harapan Anda sendiri bagaimana?
Saya berharap, Pemerintah segera melihat permasalahan ini secara serius. Ini sinyal. Salon-salon yang memang diketahui sebagai tempat prostitusi harus ditindak secara tegas dan bila perlu dicabut izin operasionalnya
Menjual Handphone Demi PSK
“Aku penasaran Bang, cewek di salon itu cantik banget. Bahkan ada yang mirip artis Luna Maya,” kata salah seorang remaja laki-laki.
Percaya atau tidak, itulah salah satu celoteh dari remaja yang sempat di temui media ini pekan lalu di Banda Aceh. Agaknya, dunia prostitusi menjadi sisi lain dari kehidupannya. Ternyata, selain rokok dan narkoba, remaja di Aceh sudah menjadi pelanggan aktif dan berani mendatangi tempat-tempat prostitusi. Salah satunya salon kecantikan yang kian menjamur di Banda Aceh.
Gemerlap kehidupan malam di kafe atau tempat-tempat hiburan lain, memang telah menjadi sajian hiburan bagi para laki-laki hidung belang di kota-kota besar, tak terkecuali Aceh. Tragisnya, dunia “kebebasan” itu, telah menyeret para laki-laki remaja yang tengah mencari jadi diri.
Indahnya kehidupan malam, ditambah kurangnya perhatian orang tua serta pengaruh lingkungan, menjadi belenggu bagi para remaja, yang kemudian terjurumus pada tindakan kriminal (Baca MODUS ACEH No.32: Remaja Aceh, Rokok dan Narkoba).
Ujung-ujungnya, muncul praktik Sex Bebas alias Prostitusi.Sebut saja Andi (bukan nama sebenarnya--red), adalah contoh remaja yang mulai keranjingan menikmati dunia prostitusi di Banda Aceh. Remaja yang baru menamatkan bangku SMU tahun lalu ini, merupakan satu dari banyaknya remaja yang terbiasa mendatangi salon-salon di kota ini.
Kepada media ini dia mengakui, dunia malam bersama pekerja seks komersial (PSK), bukanlah hal baru. Sebelumnya, dia sudah beberapa kali melakukan hubungan badan dengan pacarnya. Perbuatan terkutuk itu dijalani, saat masih duduk di bangku SMU.
Dari situlah, Andi mengaku ketagihan dan tidak bisa menahan diri. Jika ada uang, Andi segera mendatangi salon-salon yang menyediakan jasa esek-esek tadi. Sudah beberapa salon di Banda Aceh ia datangi. Semuanya untuk mencari rasa yang berbeda, ungkap Andi.
Bukan hanya itu. Andi rela menjual handphone hanya untuk bisa melampiaskan hasrat seksnya dengan seorang PSK di salon. Bulan lalu misalnya. Andi terpaksa menjual handphone yang baru dibelinya hanya gara-gara kerinduannya pada salah seorang PSK di salon yang diakuinya sangat mirip dengan Luna Maya, seorang artis ibu kota.
Andi bahkan tidak merasa takut, saat melakukan hubungan badan secara tiba-tiba di gerebek aparat keamanan atau petugas WH. “Saya tidak takut, Bang. Selama ini, saya merasa aman-aman saja dan orang juga tahu salon itu sebagai tempat esek-esek. Buktinya mereka tidak menggerebek,” ujar Andi yakin.
Parahnya, sebagaimana pengakuan Andi, tamu-tamu yang datang ke salon itu bukan hanya dari kalangan orang dewasa. Andi sudah beberapa kali melihat pelanggan salon adalah remaja seusianya. Antara 17 hingga 20 tahun.
Apakah Andi tidak takut dengan bahaya AIDS? Tentu Andi takut. Tapi sayang, semuanya terkalahkan oleh nafsu dan “lahan jajanan” yang terbuka bebas untuk dinikmati. Andi belum tahu, sampai kapan dirinya akan bisa berhenti, untuk tidak mendatangi salon-salon itu. Karena, hingga kini, ia masih terbayang-bayang dengan salah seorang PSK yang wajahnya mirip dengan Luna Maya tadi.
Entah sadar atau tidak. Kehidupan Andi bisa jadi merupakan potret hitam dari semakin tipisnya penerapan nilai agama dan adat istiadat di Aceh. Disisi lain, pukulan telak bagi Pemerintah Aceh yang selama ini begitu kuat mendengungkan syariat Islam. Sementara, salon-salon penyedia layanan seks, berkedok rumah kecantikan, terus tumbuh bak jamur di musim hujan. Adakah yang salah?***
Sumber : modus Aceh
Berganja Bahkan di Pesantren
Kebiasaan merokok yang melanjut jadi mengganja makin meluas, termasuk di lembaga pendidikan agama.
Setelah sandang dan pangan, rokok ibarat kebutuhan wajib bagi sebagian besar kaum laki-laki di Aceh. Tak ketinggalan, anak-anak dan remaja.
Namun, tanpa disadari, dari balik rokok tersebut kini menyembul masalah-masalah lain yang sulit diantisipasi. Remaja-remaja yang sudah terbiasa merokok mulai berani mencicipi barang-barang haram seperti ganja dan shabu-shabu.
Bukan hanya itu, penyebaran para remaja perokok itu, sudah tidak sungkan-sungkan untuk merokok di depan umum. Karena, rokok memang bukan sebuah barang yang aneh di Aceh. Jangankan para remaja, anak-anak pun dapat bebas membeli rokok di kedai atau kios. Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan.
”Jumlah perokok pemula dan pemadat ganja di Aceh memasuki tahapan yang mengkhawatirkan,” kata Hasbullah, guru pesantren di Kota Langsa. ”Bukan hanya di sekolah-sekolah umum. Di lingkup pesantren para murid juga tidak asing dengan rokokdan juga sudah berani berganja.”
Menurut Hasbullah, anak-anak baru mulai terpancing merokok setelah melihat kakak kelas yang merokok di dalam asrama atau di kamar kecil. Keadaan ini, menurut Hasbullah, dipicu oleh rokok yang sangat mudah diperoleh dan dibeli. ”Siapa saja, dimana saja, dan kapan saja rokok bisa diperoleh dengan mudah,” katanya.
Pendapat itu dibenarkan Fauzy, guru SMU di Aceh Timur. Menurut dia, gejala ini sudah berlangsung lama tanpa bisa dikontrol. “Siswa-siswa sepertinya menganggap rokok adalah sesuatu yang biasa-biasa saja,” katanya. ”Bahkan, menghisap ganja pun saya lihat mereka tidak takut atau khawatir dengan efeks yang ditimbulkannya.”
Memang diakui, secara umum, mayoritas laki-laki Aceh adalah perokok. Sehingga, janganlah heran, bila laki-laki yang tidak merokok akan terlihat aneh di Aceh. Bahkan dalam pergaulan sekalipun, rokok dianggap sebagai pemersatu.
Namun, dibalik itu semua, tanpa disadari rokok telah menimbulkan masalah baru. Kini menyembul masalah-masalah lain yang sulit diantisipasi di kalangan remaja Aceh. Pelaku-pelaku kriminal di Aceh, tidak sedikit yang melibatkan para remaja. Dan bukan tidak mungkin, semua itu adalah karena kecanduan narkoba. Karena, harga narkoba sangat mahal untuk ukuran remaja. “Dari mana mereka bisa membeli barang itu, meminta pada orang tua tentu tidak berani kecuali mencuri atau yang lainnya,” kata Hasbullah.
Hubungan antara perokok remaja dan kriminalitas di Aceh hingga kini tidak disadari pemerintah, khususnya pemerintah Aceh. Tingkat kriminalitas yang kian hari menunjukkan gejala peningkatan itu, belakangan justru lebih banyak melibatkan para remaja yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah.****
Dari Rokok Naik ke Narkotika?
Jajak pendapat: 98 persen remaja Aceh mengatakan pemakaian narkoba dipicu kebiasaan merokok.
Benang merah antara perokok remaja dan kriminalitas di Aceh hingga kini memang agak sulit dihubungan secara langsung. Namun, melihat hasil jajak pendapat yang telah dilakukan media ini terhadap 100 remaja laki-laki dari tingkat SMP dan SMU perokok (untuk wilayah Aceh Besar, Kotamadya Langsa dan Aceh Timur) bisa membenarkan.
Survei dilakukan dengan metode purposive sampling area. Melalui metode purposive sampling ini, dilakukan pengambilan sampel dengan tujuan dan rencana yang sudah ditetapkan untuk sampel tersebut.
Survei ini memang dilakukan tidak dengan standar baku akademis. Namun, hasilnya bisa dijadikan patokan tentang perilaku merokok di kalangan siswa di tiga kabupaten. Kami menganjurkan lembaga yang terkait untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang hal ini.
Hasil survei tersebut, seakan mensahihkan bahwa perokok dari kalangan remaja sudah sangat memprihatinka. Dari 100 responden remaja perokok, sebanyak 98 persen remaja yang dimintai pendapatnya mengaku rokok adalah awal yang menyebabkan seseorang menjadi pemakai narkoba seperti ganja. Hanya dua persen remaja yang menganggap rokok bukan penyebab utama seseorang menjadi pemakai narkoba.
Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak Banda Aceh, Ayu Ningsih mengungkapkan. Kenyataan dilapangan saat ini memang seperti itu adanya. Secara tidak langsung, rokok menjadi pintu awal untuk mencicipi narkoba hingga menjadi pecandu, khususnya ganja. Apalagi Aceh, sebut Ayu Ningsih, rokok di Aceh adalah barang yang biasa. “Apalagi ganja yang sangat mudah diperoleh dengan harga yang tidak terlalu mahal, maka kesempatan utnuk menjadi pemakai sangat terbuka lebar. Kenyataan ini, merupakan pil pahit yang sangat memprihatinkan bagi dunia anak dan remaja di Aceh,” ungkap Ayu.
Dari 100 responden muda tadi diperoleh fakta, 62 persen remaja laki-laki di Aceh pernah memakai narkoba. Dan 13 persen responden mengaku sudah menjadi pecandu berat, sementara 49 persennya mengaku hanya sesekali mengkonsumsi. Sisanya, hanya 38 persen responden yang mengaku tidak pernah mengkonsumsi narkoba.
Kondisi ini, menurut Psikolog anak dari Psikodista Banda Aceh, Dra Nurjannah Nitura, keterlibatan anak-anak dan remaja di Aceh mengkonsumsi barang-barang haram itu sebagian besar diakibatkankarena tidak sengaja. Seperti dibujuk ataupun ditipu teman adalah hal sering terjadi. Nurjannah mengakui, banyak kalangan berpendapat bahwa perokok remaja saat ini akan cenderung untuk menjadi pengkonsumsi ganja atau narkoba lainnya.
Kondisi paling miris tentu, saat responden diminta mengisi kuisioner tentang keterlibatan tindakan kriminal. Ada tiga tingkatan, pertama kriminal berat (membunuh, memperkosa, merampok dan mencuri benda milik orang lain), kedua kriminal ringan (menjual barang dirumah, mencuri uang orang tua, dan mengompas teman), dan yang ketiga tidak pernah terlibat tindak kriminal.
Dari 100 remaja, 37 persen di antaranya pernah melakukan tindakan kriminal. Sedangkan untuk tingkat kriminal ringan sebanyak 28 persen dan 9 persen di antaranya pernah melakukan tindakan kriminal berat. Namun begitu, tindakan kriminal yang dianggap berat itu, para responden tidak pernah melakukan tindakan membunuh dan memperkosa. Sedangkan 63 responden mengaku tidak pernah melakukan tindakan itu dengan alasan masih takut.
Kondisi ini dibenarkan Ayu Ningsih. Direktur LBH Anak Banda Aceh ini menjelaskan. Pelaku kriminal dari kelompok remaja di Aceh diakuinya memang perokok. Namun, semua itu terjadi akibat akumulasi narkoba yang dikonsumsinya. Selain itu, tindakan kriminal ini terjadi, karena pergaulan yang terlalu bebas dengan orang-orang yang lebih dewasa dalam hal mengkonsumsi barang haram tersebut.
Sedangkan Psikolog anak, Nurjannah Nitura menolak jika rokok menjadi faktor dan penyebab aksi kriminal remaja di Aceh. Namun, Nurjannah setuju apabila tindakan kriminal itu terjadi karena efeks samping mengkonsumsi barang-barang haram itu. Alasan Nurjannah, syaraf akan menjadi agresif saat mengkonsumsi narkoba, dan kesadaran menurun drastis. Karena dibawah kesadaran itulah, maka peluang untuk melakukan tindakan-tindakan kriminal atau lainnya menjadi sangat terbuka dan tinggi.
No
Pertanyaan
Jumlah
Persen
Total
1
Terlibat Ganja/Narkoba (candu)
13 orang
13 %
62 %
100 %
Terlibat Ganja/Narkoba (sesekali)
49 orang
49 %
Tidak Terlibat
38 orang
38 %
38 %
2
Terlibat Kriminal Ringan
28 orang
28 %
37 %
100 %
Terlibat Kriminal Berat
9 orang
9 %
Tidak Pernah
63 orang
63 %
63 %
3
Rokok Menjadi Awal Narkoba
98 orang
98 %
100 %
Rokok Bukan Awal Narkoba
2 orang
2 %
Melihat persentase di atas, kondisi remaja di Aceh tentu sangat mengkhawatirkan. Kasus-kasus kriminalitas yang sering melibatkan remaja-remaja di Aceh adalah sebuah gambaran. Rokok menjadi sumber pertama, walau bukan utama.
Sebagian besar remaja dan pemuda yang terlibat narkoba di Aceh berawal dari rokok. Dari kuisioner yang diisi, tidak ada seorang pun remaja yang terkait narkoba, tanpa diawali rokok. Sekitar 98 persen remaja yang terkait narkoba bermula dari menghisap rokok.
Dalam sosialisasi pencegahan bahaya narkoba di Banda Aceh, Kamis (15/5) lalu, Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) NAD, Muhammad Nazar, mengungkapkan. Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Aceh hari ini telah mencapai angka yang menakutkan.
Dari data BNP menyebutkan, kasus narkoba di Aceh hingga akhir 2007 tercatat sebanyak 599 kasus, meningkat pesat dibandingkan pada 2005 yang hanya berjumlah 101 kasus. Pada 2007 terdata 892 tersangka yang didominasi kaum laki-laki dengan rata-rata usia pelaku pada di atas 25 tahun.
“Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Aceh hari ini telah mencapai angka yang menakutkan,” kata Muhammad Nazar, Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) Nagroe Aceh Darussalam. Data BNP menyebutkan, kasus narkoba di Aceh hingga akhir 2007 tercatat sebanyak 599 kasus, meningkat pesat dibandingkan pada 2005 yang hanya berjumlah 101 kasus.
“Pastinya, ini tanggung jawab bersama. Karena, rokok itu pengantar untuk memasuki gerbang narkoba. Saya rasa, diperlukan kerjasama secara menyeluruh dari semua pihak. Karena ini tanggung jawab kita bersama untuk generasi Aceh,” tandas Ayu Ningsih, prihatin. ***
Remaja Aceh dalam Bahaya!
Kemiskinan di pedesaan dan pengaruh negatif perkotaan merusak remaja Aceh. Rokok, dan kemudian narkotika, menyorongkan mereka masuk dalam perangkap kriminalitas.
Malam semakin gelap. Rintik hujan masih membasahi kota sejak sore. Hanya satu-dua orang melintas di emperan toko Jalan Teuku Umar, Setui, Banda Aceh.
Sepi. Tapi tidak bagi empat anak remaja belasan yang duduk di sudut sebuah toko samping Terminal Bus Antar Kota Setui. Mereka seperti tengah menikmati pesta di bawah langit mendung malam itu. Aksi mereka memang tidak akan terlihat orang lain, karena, selain gelap, tempat yang mereka pilih juga sangat jarang dilalui orang. Apalagi mati lampu, serta hujan sedari sore membuat orang enggan keluar rumah.
Ternyata benar dugaan saya. Isu selama ini, bahwa banyak anak jalanan dan pengemis sering mengadakan pesta narkoba, benar adanya, walau pada taraf kecil-kecilan. Malam itu, keempat pengemis itu seperti lupa akan dunianya.
Itulah malam kedua saya mencoba melihat lebih dekat kondisi anak-anak jalanan yang terlibat narkoba. Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar Setui, pemandangan seperti ini bukan aneh lagi. Anak-anak pengemis itu merokok, menghisap lem dan berganja, tanpa halangan.
Problem narkotika dan kejahatan yang menyertainya menghantui Banda Aceh, ibu kota provinsi Nagroe Aceh Darussalam meski ada penerapan Syariat Islam di sini.
“Saya tidak tahu, mereka itu tinggal sama siapa dan di mana,” kata Masrun, salah seorang penjual nasi di daerah Setui. ”Tapi, tersiar kabar, ada beberapa pemilik rumah di daerah Setui yang menyewakan rumah murah bagi mereka.”
Menurut Masrun, anak-anak itu biasanya berkumpul setelah Isya, setelah meminta sedekah seharian. “Mereka rata-rata pengemis dari daerah luar Banda Aceh,” katanya.
Berkeliarannya pengemis anak-anak menjadi sumber kegalauan. Bukankah mereka masih duduk di bangku sekolah dan seharusnya mencari ilmu, bermain atau berkumpul bersama keluarga? Penghidupan yang makin sulit di pedesaan memaksa mereka menginjakkan kaki ke Banda Aceh, hanya untuk menjadi seorang pengemis.
Haikal, satu dari keempat anak itu, mengaku senang walaupun hanya bekerja sebagai peminta-minta. ”Bahagia bisa berkumpul dengan tema-teman dari daerah lain,” kata remaja berusia 15 tahun ini. Apalagi, tambah Haikal, bila sudah malam, “Kami bisa pesta lem.” Bagi Haikal, ini tahun ke tiga baginya di Banda Aceh.
Bertubuh kurus dengan kulit hitam legam, Haikal mengaku biasa menghabiskan uang sedekah dari jalanan untuk menikmati pesta kecil-kecilan bersama teman-teman. Yaitu menghisap ganja. “Tapi, jika kami tidak ada uang, kami hanya merokok bersama-sama sambil makan kerupuk murah,” ujar Haikal sambil tersenyum.
Bagi Haikal dan teman-teman, menghisap ganja hanya sedikit berbeda dari menghisap rokok yang sudah dilakukannya sejak lama. Sejak masa masih kecil, semua mereka sudah terbiasa merokok di kampungnya, sebelum ke Banda Aceh.
“Saya sudah merokok sejak Sekolah Dasar,” kata Haikal. Orangtua saya tidak marah. “Sekarang, jika satu jam saja tidak merokok, rasanya kepala ini sakit sekali,” katanya sambil mengepulkan asap sebatang rokok Dji Sam Soe, satu jenis rokok kretek yang paling umumnya hanya dinikmati orang dewasa karena dipandang berat.
Mulai Mencuri
Rokok dan ganja memaksa mereka mengantongi uang. Jika sudah sangat terdesak tak punya duit, Haikal mengaku nekat mencuri atau berbohong-bohong sakit di depan orang, agar yang melihat iba. “Kami pantang kelihatan gemuk. Agar waktu kepepet orang bisa percaya,” katanya sembari tertawa.
Perbuatan paling nekat yang pernah Haikal dan teman-teman lakukan adalah mencuri sepeda milik anak-anak di beberapa mesjid Banda Aceh, ketika pemiknya sedang mengaji. Haikal mengaku sudah tahu trik mencuri agar tidak ketahuan.
Setelah barang didapat, mereka akan menjual sepeda itu kepada kelompok pengemis lain. “Umumnya kami menjual kepada orang dewasa yang juga pengemis, yang kemudian mereka jual lagi,” kata Haikal. Mereka tak beradi menjual begitu saja pada sembarang orang. Pengemis dewasa yang umumnya sudah menikah, kata Haikal, lebih dipercaya kalau menjual barang mahal dibanding kelompok Haikal yang masih terlihat anak-anak.
Haikal mengaku menghabiskan semua uang dari hasil penjualan barang curian pada malam itu juga untuk membeli rokok, ganja atau lem.
Dari mana mereka mendapat ganja? Haikal bungkam. Alasannya, jika menunjuk penjual, mereka akan sulit mendapatkan ganja kering lagi. “Tapi, jujur, kami hanya sering ngisap lem dari pada ganja. Karena kami takut ditangkap polisi.”
Muhammad, remaja berusia 15 tahun asal kota Beureun, Pidie, mengaku tidak hanya mencuri sepeda, tapi sepeda motor dan benda elektronik seperti telpon genggam, untuk memenuhi kebutuhannya akan rokok, lem dan ganja.
Muhammad sudah tiga tahun di Banda Aceh. Seorang tetangga mengajaknya ke ibu kota provinsi setelah bencana tsunami 2004. “Banda Aceh banyak duit,” kata Muhammad menirukan tetangganya. Dia tertarik pergi mengingat tidak sekolah lagi dan kerjanya duduk-duduk atau bekerja sebagai pemulung di Beureun.
Di Banda Aceh, Muhammad, satu dari empat bersaudara ini, menjadi pengemis. Ia menyewa sebuah rumah kontrakkan khusus pengemis di kawasan Setui, bersama ibunya yang juga ikut ke Banda Aceh.
Berawal dari hanya merokok, Muhammad kini mengaku menjadi pecandu berat ganja karena ikut teman-temannya. “Jika sehari saja tak menghisap ganja, kepala ini rasanya pusing sekali,” ujarnya.
Muhammad telah merokok sejak duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. “Kami sering merokok ramai-ramai saat Lebaran. Karena banyak uang,” katanya. Dia kemudian mencandu. Dulu, waktu masih di Bireun, uang jajan yang diberikan orangtua dihabiskannya untuk rokok. Kini uang habis untuk membeli ganja. “Kini, saya sudah bukan level merokok lagi. Tapi sudah ganja dan lem,” katanya.
Untuk membeli ganja, Muhammad mengaku sering kongsi bersama pengemis lain. Lalu dihisap bersama-sama secara bergantian. “Di Banda Aceh banyak yang jual. Mudah mencari ganja di sini.”
Uang diperoleh dari mengemis atau berjualan plastik bekas. Jika uang tidak cukup juga, Muhammad mengaku meminta paksa uang dari pengemis yang lebih kecil darinya. Atau dari mencuri. “Jujur, saya pernah sekali mencuri Honda di mesjid. Saya jual 500 ribu rupiah,” katanya. Setelah itu, Muhammad mengaku pesta ganja semalam suntuk.
Jalinan Keluarga yang Retak
Rokok dan ganja tidak hanya menjadi hiburan bagi kemiskinan, melainkan membuat miskin dan berantakan keluarga normal.
Muha, perempuan 45 tahun di kawasan Darussalam, Banda Aceh, mengaku hampir putus asa menghadapi kelakuan anaknya, Minaimin, yang mencandu ganja. Minaimin pernah sekolah di sebuah pesantren, namun dikeluarkan karena kepergok menghisap ganja.
”Dia tidak pernah mau mendengar nasehat dan kata-kata saya,” kata Muha. Sikap Minaimin bahkan makin durhaka ketika diingatkan untuk tidak menanam ganja dalam pot sebelah rumahnya. ”Saya pernah dia cekik dan ancam,” kata Muha.
Kecanduan ganja Minaimin menggerogoti kekayaan ibunya. ”Emas dalam almari dan bahkan uang untuk makan sehari-hari pun ludes,” kata Muha. Sang ibu terpaksa menumpuk hutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari adik-adik Minaimin.
Muha harus menguras menjual barang lain dan berhutang lagi ketika mendengar Minaimin ditangkap polisi. ”Saya harus menebusnya,” kata Muha sambil menangis. “Terkadang, saya malu untuk keluar rumah bila mengingat kejadian itu.”
Setelah bebas dari tahanan polisi, sikap Minaimin justru menjadi-jadi. Tanpa malu dia membawa seorang gadis tidur di rumah, berhari-hari. Akhirnya, apa yang ditakutkan Muha benar-benar terjadi. Si gadis hamil di luar nikah. Minaimin menjadi ayah pada usia 19 tahun. Karena Minaimin menganggur, Muha dan suaminyalah yang membiayai hidup keluarga muda ini dari berjualan kecil-kecilan.
Menurut Muha, Minaimin telah merokok sejak kelas enam Sekolah Dasar. Dua adiknya juga merokok dan menghisap ganja secara sembunyi-sembunyi di dalam kamar. “Saya tak bisa melarang. Mereka tidak pernah menghormati saya dan ayah mereka.”
Meski telah menimbulkan banyak bencana bagi keluarga, sikap Minaimin tidak berubah. “Hingga hari ini saya masih trauma,” kata Muha. ”Anak-anak saya begitu mudah menghina saya dengan sebutan anjing atau babi hanya gara-gara tidak diberi uang. Dan saya yakin, uang yang mereka minta itu hanya untuk membeli ganja dan narkoba.”
Ganja dan narkoba menjauhkan anak dari lingkungan keluarga baik-baik serta menyesatkan mereka makin jauh. Setelah menghisap rokok sejak Sekolah Dasar, Saiful, pemuda Peureulak, Aceh Timur, mengaku mencoba ganja saat masih di sekolah menengah umum.
Melalui jajak pendapat yang dilakukan media ini, terungkap sekitar 67 persen responden remaja perokok mengaku juga memakai narkoba, serta 98 persen mengatakan pemakaian narkoba dipicu kebiasaan merokok.
“Semua yang menghisap ganja bermula dari rokok,” kata Saiful. ”Jika sudah biasa merokok, kita akan mudah menghisap ganja. Jika tidak pernah merokok saya yakin orang takkan bisa langsung menghisap ganja. Dia pasti akan teler berat.”
Pernah memanggul senjata sebagai pemberontak saat Darurat Sipil di Aceh, Saiful belum bisa menghentikan kebiasaan buruk yang makin menggerogoti tubuh dan menyebabkannya terlibat dalam kejahatan. Saiful mengaku pernah mencuri dua buah sepeda motor untuk membayar hutang yang sudah akibat shabu-shabu. Dia juga mengaku pernah mencuri sawit milik penduduk untuk dijual.
“Jujur, saya ingin tobat,” katanya. ”Tapi sulit sekali, karena di lingkungan saya sangat mudah mendapat barang-barang itu.” Peureulak adalah kota kecil. ”Tapi tak sulit mendapatkan ganja dan shabu-shabu di sini,” katanya.
Kriminalitas Remaja Meningkat
Dekat dengan kejahatan hanya satu akibat saja. Dunia Saiful benar-benar berubah. Jika sebelumnya tidak pernah menonton film-film porno, dia kini sudah terbiasa dengan hal itu. Tekanan ekonomi dan godaan hidup senang serta mudah mendorong peningkatan kejahatan remaja, tak hanya dalam bentuk pencurian dan kekerasan, tapi juga perkosaan.
Juli lalu, Andalin, remaja 15 tahun di Bireun, ditangkap dengan tuduhan menggauli remaja puteri setahun lebih muda yang masih sepupunya. Masih di kota yang sama pada bulan yang sama, siswa sekolah menengah umum lain diadili dengan tuduhan serupa.
”Kasus kriminalitas di Aceh yang melibatkan anak-anak memang meningkat drastis,” kata Ayu Ningsih, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak di Banda Aceh. Dalam beberapa bulan terakhir kejahatan yang melibatkan anak-anak sebagai pelaku maupun korban mencapai 50 kasus, 20 kasus di antaranya adalah pencurian dan 15 kasus pelecehan seksual atau perkosaan.
Sebuah kasus kekerasan yang paling menggemparkan terjadi pada Juli 2008 lalu, ketika Suhaimin, sebut saja begitu, diseret ke pengadilan. Remaja 17 tahun ini didakwa membunuh seorang nenek, Zuariah alias Nek Zu, secara berencana. Dia dituntut hukuman enam tahun penjara atau setengah hukuman dari orang dewasa.
Dalam persidangan, Suhaimin mengaku kesal terhadap Nek Zu, yang mengeluarkan kata hinaan ketika Suhaimin hendak meminjam uang. Padahal korban masih tetangga dekat pelaku, rumah meerka hanya berjarak 20 meter. “Saya nekat menusuknya dengan pisau yang telah saya siapkan sehari sebelumnya,” kata Suhaimin.
Setelah mengeksekusi Nek Zu dengan 28 tusukan di sekujur tubuh, Suhaimin langsung melarikan uang tunai sebesar Rp 4 juta yang diambilnya dari dalam lemari pakaian. Suhaimin juga menarik paksa perhiasan milik korban, yakni dua cincin dan seutas kalung emas murni.***
sumber : modus aceh
Sabtu, 02 Mei 2009
PAYA MEULIGOE
Tak ada yang berubah. Itulah kesan awal yang terlihat saat kaki melangkah di desa Paya Meuligo, Peureulak, Aceh Timur. Sebuah daerah yang terkenal dengan basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada masa konflik lalu itu, hingga kini masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Jalan kerikil tidak beraspal, rumah-rumah warga yang segan berdiri karena rapuh dimakan usia, termasuk pasilitas-pasilitas masyarakat lainnya yang minim masih menghiasi desa. Penduduk Desa yang disebut Bandar Khalifah itu, sebagian besar bekerja sebagai petani. Nyaris tidak ada yang berubah. Desa yang berpenduduk 250 Kepala Keluarga (KK) tersebut, sebelum MoU maupun pasca MoU masih terlihat suram. Menurut Muhammad, salah seorang warga Paya Meuligo, setelah MoU tahun 2005 lalu, banyak anggota GAM yang kembali menjalani hidup seperti biasa. Sebagai petani. “Banyak dari mereka yang harus mengulang hidup. Sebagian rumah mereka yang dibakar belum diganti. Uang diyat juga sebagian besar belum diperoleh sama sekali,” kata Muhammad lagi. Bukan hanya itu. Tidak sedikit dari para mantan GAM itu, hingga kini belum mendapatkan bantuan, sebagaimana yang pernah dijanjikan. Keadaan ini juga dibenarkan Geuchik Paya Meuligo, H Ismail Yusuf, saat ditemui dirumahnya pada Agustus 2008 lalu. Menurut Geuchik Ismail, sebelum MoU dan sesudah MoU, kondisi daerahnya sama saja. Pasca MoU, hampir semua janji-janji tidak ada yang terealisasi. Geuchik Ismail mencontohkan. Untuk ekonomi, padahal para mantan kombatan sudah dijanjikan untuk mendapatkan lahan dua hektar. Terkait masalah jalan yang belum diaspal, Geuchik Ismail mengaku sudah lelah membuat dan mengirim proposal kepada pemerintah daerah. Tapi hingga kini tidak pernah terealisasi. “Saya tidak tahu mengapa, apakah karena ini daerah basis saya tidak tahu,” kata Geuchik Ismail pasrah. Inilah gambaran Paya Meuligo, daerah basis perjuangan pada masa konflik. Akankah kehidupan pasca MoU mampu membawa perubahan bagi mereka, khususnya dalam hal peningkatan ekonomi? Bagaimana dengan Pemerintah Aceh Timur? Benarkah telah memberikan yang terbaik, khususnya bagi masyarakat di desa Paya Meuligo? Ntahlah...
Negeri Makian
“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”
Aku terdiam. Suara-suara itu begitu memekakkan telinga. Andaikan dapat menjerit tentu aku akan menjerit. Tetapi suaraku tersekat di tenggorokan. Mungkin sehari lagi, seminggu atau bahkan setahun lagi aku akan mampu berteriak dan menjerit.
“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”
“Bukan….., aku bukan pembunuh……!!!”
“Dorr…..! dorr……! dorr….!!”
“Dorr…! Dorr….!!”
Manusia-manusia ini telah menumpahkan darah kami. Membasahi negeri kami yang termaki, termaki oleh orang-orang yang merasa dirugikan.
**Ah…"
Andaikan ayahku ada di sini, tentu aku akan dapat melihat rona wajahnya. Apakah ia akan terkejut dengan kata-kata itu, atau hanya diam seribu bahasa. Aku ingin tahu.
Guratan-guratan wajahnya kian mengiris hatiku. Begitu lama ia meninggalkan kami. Membiarkan kami hidup dalam negeri yang penuh gejolak. Andaikan ia mengetahui betapa kami merindukannya, betapa kami ingin melihat senyum dan tawanya, betapa kami merindukan dekapan hangatnya. Aku tidak tahu apakah ia merasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini.
Aku lelah, tidak sanggup lagi melangkah dan berkata. Ayah, tahukah ia, bahwa aku tidak sanggup lagi mendengar dan menenangkan gejolak-gejolak jiwa dan celoteh-celoteh rindu dendam adikku.
“Bang, Ayah kemana? Kenapa tidak puyang-puyang!! Bang kita pelgi cali Ayah yuk. Adam linduuu cekali cama ayah.”
Aku lelah, tidak sanggup menenangkan tangis dan jeritan hati Emak. Aku tidak sanggup menenangkan bathin mereka berdua. Ayah, pulanglah...
“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”
Aku terdiam. Suara-suara itu semakin keras menghunjam jiwaku yang semakin kering dan gersang. Ingin rasanya aku berteriak, tetapi suaraku kembali tersekat oleh sebuah beban yang sangat berat, hanya hatiku yang berbisik.
“Pembunuh!!”
Aku sadar, aku tidak akan mampu bertahan lama. Aku tidak sanggup hidup dalam negeri yang penuh dengan darah dan jeritan ini.
Ayah...jemputlah kami, jangan engkau biarkan kami terpasung dalam barisan manusia-manusia yang haus darah itu. Jangan biarkan air mata kami menjadi darah. Aku lelah, ayah. Sudah begitu lama kami menunggumu.
Ayah...apakah engkau tidak merindukan kami. Emak, apakah engkau telah melupakan belaian kasihnya dikala engkau lelah. Ayah, air mata Emak sudah mengering hanya untuk selalu mengingatmu, mencintaimu. Lidahnya kelu untuk dapat selalu berucap tentangmu, berucap tentang cintanya padamu, Emak pun tidak sanggup lagi, sama seperti diriku. Perasaan kami hancur, bukan karena marah, tetapi karena menahan rindu, memendam cinta kepadamu.
Ayah, apakah engkau juga tidak merindukanku. Emak kata, aku mirip sekali denganmu dan apakah engkau juga tidak ingin melihat anak bungsumu, Adam. Ia kerap menanyakan keberadaanmu. Ia selalu bernyanyi untukmu dalam puisi-puisi hatinya.
Kami semua menyayangimu, walau manusia-manusia itu membenci dan memakimu, engkau tetaplah ayah kami. Bahtera tempat kami berteduh dan berlabuh. Ayah, auramu begitu kuat kami rasakan.
“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”
Aku tersentak. Suara-suara itu semakin kuat memukul jiwaku yang sudah lama terkoyak. Ingin menjerit, aku tidak sanggup. Hanya air mataku yang mulai berjatuhan. Kelopak mataku tidak mampu lagi menahan desakan-desakan halus dari dalam tubuhku.
Ayah, pulanglah untuk kami. Hapuslah air mata kami. Hanya engkaulah satu-satunya harapan kami, karena kini orang-orang pun telah ikut membenci kita karena manusia-manusia itu. Mereka menghina kita, mencacimaki kita!!. Ayah, jangan biarkan hati kami menjerit karena takut yang kami rasakan.
Mata-mata itu terus menerus mengawasi dan menyakiti kami. Kami semakin takut, dunia seperti menyempit bagi kami. Mengapa manusia-manusia itu membenci kita dan mengapa orang-orang itu juga membenci kita. Apa salah kita. Bukankah tanah ini tanah kita, negeri kita. Ayah, jangan biarkan airmataku terus mengalir.
Ayah...andaikan Allah memberiku sepasang sayap seperti burung-burung, maka aku akan terbang jauh ke angkasa untuk mencarimu. Mengabarkan berita pilu ini kepadamu. Dan seandainya Allah memberikanku kemampuan untuk dapat berbicara kepada angin, tentu aku pun akan meminta padanya agar dapat menerbangkan tubuh ini jauh ke angkasa sehingga dapat mengabarkan berita ini kepadamu. Agar engkau dapat melihat dan merasakan seperti yang kami rasakan.
Tetapi semuanya membisu, kaku. Angin hanya mampu berhembus dan melihat. Begitupun manusia-manusia, semuanya ikut membisu, takut akan kejamnya dunia yang siap mengancam. Hanya kerajaan langitlah yang tahu. Semuanya akan diperhitungkan kelak.
“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”
Ayah, dengarlah jeritan kami ini. Benarkah apa yang mereka katakan, bahwa engkau pembunuh. Ayah, mengapa manusia-manusia itu menuduhmu sebagai pembunuh, sebagai musuh. Aku tak percaya!
Ayah, walau seluruh manusia-manusia yang ada dimuka bumi ini menuduhmu sebagai pembunuh, walau mereka memaki dan menghinamu, percayalah, hati dan cinta kami masih seperti dulu. Tetap untukmu.
Ayah, berjalan dan teruslah berjuang. Tetesan darah dan keringatmu akan menjadi saksi bahwa engkau bukan pembunuh. Engkaulah ksatria, engkaulah pahlawan. Lihatlah, gunung-gunung, sungai-sungai, pohon-pohon, burung-burung, semua akan menjadi saksi dan bersaksi bahwa engkaulah pahlawan yang sesungguhnya. Langit dan bumi akan menjadi saksimu, ayah.
Ayah, teruslah berjalan, merekalah pembunuh. Pembunuh dalam negeri makian ini. Pembunuh dalam negeri jeritan ini.
Ayah pulanglah, jemputlah kami. Bawalah kami bersama cinta dan impianmu. Kami akan setia menemanimu berjuang. Walau berjuta rintangan dan halangan akan menghalangi kita, walau nyawa sebagai taruhannya, kami akan tetap bertahan, tenang bagaikan samudra, tegak teguh seperti gunung.
**
Ah...
Andaikan Ayah ada disini, tentu aku akan dapat melihat rona wajahnya. Apakah ia akan terkejut, atau ia hanya diam seribu bahasa. Aku ingin tahu.
Ayah, andaikan engkau ada disini, tentu engkau akan dapat melihat dan menyaksikan tubuh-tubuh kami yang terbaring kaku. Kaku dalam ketakutan dan jeritan hati. Tentu engkau akan melihat darah-darah kami yang membasahi negeri makian ini. Engkau akan melihat dengan mata dan hatimu, bahwa kami telah mengorbankan nyawa untuk negeri makian ini.
“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”
“Bukan….., aku bukan pembunuh……!!!”
“Dorr…..! dorr……!dorr….!!”
“Dorr…! Dorr….!!”
Manusia-manusia itu telah menumpahkan darah kami. Membasahi negeri makian yang semakin menjerit.
Andaikan Ayah ada disini, tentu aku akan dapat melihat rona wajahnya. Apakah ia akan terkejut atau hanya diam seribu bahasa. Aku ingin tahu.
“Bang, adam rindu Ayah. Bang...bang... Adam mau pergi jemput ayah,” airmataku terjatuh. Pandanganku begitu nanar. Hatiku menjerit. “Adam adikku... pergilah... jemputlah ayahmu. Abang akan menyusul.”
Kulihat wajah ibuku yang telah terbebas, terbebas dari negeri ini. Semoga ia berbahagia. “Mak, pergi dan bawalah lara hatimu, bersama cinta yang telah lama engkau pendam. Aku akan menyusulmu.”
Ayah, kami pergi medahuluimu. Cinta kami, hati kami, airmata kami, kerinduan kami tetap untukmu. Kami tetap merindukan pelukan hangatmu, Ayah.
Ya Allah Engkau menjadi saksi, aku bukan pembunuh, ayahku bukan pembunuh. Kami bukan pembunuh!!
Ayah, dimanakah engkau kini. Aku tidak dapat meraba selaksa wajahmu lagi. Semuanya gelap.